Peraturan
atau kebijakan Negara bisa dikatakan berubah ketika pimpinannya pun ganti, tapi
bisa juga tidak. Perubahan pada peraturan yang sudah diterapkan bisa saja
membawa dampak negatif maupun positip. Hal ini bisa di lihat dari berapa besar
respon yang ditunjukkan oleh petinggi Negara dan juga masyarakatnya, seperti
halnya banyaknya perubahan yang terjadi di tahun 2015 ini. Antara respon secara
positif dan negatif pun berbanding terbalik. Banyaknya respon positif yang di
dapat, maka lebih besar kemungkinan peraturan baru itu diterapkan. Kebijakan
atau peraturan baru yang sudah sah tidak bisa diganggu gugat lagi. Salah satu
kebijakan baru di Negara ini.
hal itu dikatakan oleh RifqinizamyKarsayuda Kebijakan
baru yang telah diterapkan dan di dukung oleh oleh para petinggi Negara ini
salah satunya tentang hukuman mati. Kebijakan baru yang dibuat oleh presiden
Jokowi baru-baru ini cukup membuat beberapa petinggi tidak menyetujuinya. Walaupun
dalam kenyataannya dari beberapa itu setuju dengan respon positif sekitar lebih
dari 25%, seperti halnya yang ditunjukkan oleh kementrian luar negeri. Respon
awal yang ditunjukkan adalah respon negatif, sekitar 5% saja. Tapi pada
kenyataannya itu berbanding terbalik. Kementrian luar negeri, termasuk
pendukung terbesar dari semua pendukung yang hanya 5% sampai 10% saja. Sedangkan
dari presiden Jokowi sendiri pun hanya memberikan dukungan sekitar 10% saja.
RifqinizamyKarsayuda mengatakan Kebijakan
ini sebenarnya banyak memicu protes yang cukup besar, sampai sekarang pun
kebijakan tentang hukuman mati tersebut masih menjadi topik yang belum bisa
diselesaikan. Bahkan banyak yang mencibir tentang hal ini. Walaupun beberapa
partai mendukungnya. Partai Gerindra, Golkar, PKS, Nasdem dan juga petinggi
wakil presiden Yusuf Kalla, kementrian hokum dan HAM, juga kementrian koordinator
bidang politik & keamanan.

0 Response to "Ironi Pemimpin Baru Oleh Rifqinizamy Karsayuda"
Posting Komentar