Dari mana kita bisa keluar dari masalah jika kita tidak tau
dari mana masuknya masalah? Ini soal sederhana, seperti mengurut pohon hingga
ke akar masalah. Jika ada penyelenggara negara tidak dapat mengurut masalah,
maka sebenarnya dia bagian dari masalah.
Ini ibarat seekor kodok di atas sumur yang ingin
menyelamatkan kodok yang terjerumus ke dalam sumur. Jika kodok yang berada di
atas sumur itu, lompat masuk ke sumur, maka saat itu pula dia sudah menjadi
bagian dari masalah.
Untuk menyelesaikan masalah, seharusnya dia harus tetap
berada di luar sumur, untuk mengurai akar masalah dan menemukan jalan ke luar
masalahnya.
Salah satu cara paling mudah memahami masalah adalah dengan
mengurai sumber masalah. Solusinya kemudian adalah mendeteksi dari mana pintu
masalah masuk, dari pintu itu masalah dikeluarkan.
+ Jika rumusan masalahnya:
Mengapa umat Islam melakukan aksi bela Islam?
- Maka jawaban masalahnya:
Karena kitab suci mereka dihina.
+ Jika rumusan masalahnya:
Siapa yang menghina kitab suci umat Islam?
- Maka jawaban atas masalah itulah sumber masalahnya.
Mudah sekali bukan? Jelas sumber masalahnya dan jelas pula
dari mana datangnya. Tapi mengapa menjadi sulit?
Fayakhun bakamla dan problem solver
Karena ada pihak yang seharusnya menjadi pemecah masalah
(problem solver) justru bertindak menjadi bagian dari masalah (part of
problem). Ini mirip kodok di atas sumur yang lompat masuk ke dalam sumur.
Seolah ingin menyelamatkan kodok yang terjerumus ke dalam sumur, padahal dia
sendiri telah menjadi bagian dari masalah yang harus diselamatkan.
Dengan demikian selama akar masalah tidak diselesaikan, maka
selama itu pula masalah tidak akan pernah selesai.
Mengalihkan masalah pada hal lain seperti radikalisme-lah,
fundamentalisme-lah, ancaman disintegrasi-lah, anti Bhinneka-lah. Apalah,
apalah.... itu bukan penyelesaian akar masalah.
Ibarat bayi yang menangis karena popoknya basah kena ompol,
tapi dipaksa harus berhenti dan diam dengan cara menakutinya dengan berbagai
topeng yang seram. Bayi akan tetap menangis karena masalahnya bukan monster
seram pada topeng. Yang diinginkan bayi adalah, ganti popok yang basah kena
ompol dengan popok yang kering.
Sekali lagi, ini soal yang mudah dan sederhana. Jangan
dibuat rumit dan susah. Ada orang yang menista kitab suci umat beragama, umat
beragama marah dan menuntut hukum diterapkan secara adil dan merata. Jika hukum
adalah cermin keadilan rakyat, maka rakyat menuntut keadilan. Ini cermin sila
kedua Pancasila, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab...
Bakamla terbaru
Mendadak muncul kampanye cinta kebangsaan dan kebhinnekaan.
Seakan Islam baru masuk Indonesia kemarin sore, dan umat muslim baru kenal
Indonesia kemarin malam. Seolah merasa paling cinta INDONESIA. Tiba-tiba
seperti kehilangan akal sehat hanya karena membela satu orang.
Mungkin dahulu pada era awal media sosial, kendali opini bisa
dipegang penuh karena penguasaan akses informasi. Tapi tidak untuk saat ini.
Al-Maidah 51 rahmat bagi terbangunnya semangat baru melawan pembodohan melalui
kendali opini..
Golkar dan KPK
Kalah atau menang itu biasa dalam pertandingan. Bersedih itu
manusiawi (Gambar #1), pihak yang sama kalah saling menguatkan (Gambar #2)
itulah solidaritas. Tapi berlapang dada menerima kekalahan itu dewasa dan
berjiwa ksatria.
Bagi yang menang (Gambar #3) bolehlah eforia sebentar karena
usaha keras membuahkan hasil, ini juga manusiawi. Setelah menang jangan lupa
pada hakekat kemanusiaan. Tetaplah lindungi yang lemah (Gambar #4 dan #5).
Jika yang merasa kalah sulit move on, sebaiknya jangan
berlarut. Bawa santai saja sambil tidur (Gambar #6). Bangun tidur mudah-mudahan
bisa move on. Dari sepak bola kita bisa belajar banyak nilai kehidupan...
Kerja, kerja, kerja... salam fayakhun bakamla
0 Response to "Fayakhun Bakamla seperti Popok dan Kodok"
Posting Komentar